Berani Mengikuti Kata Hati Menjadi Penulis Profesional Dengan Laptop ASUS Vivobook S14 S433

By Nabila Ghaida Zia - Juli 19, 2020



KISAH DARE TO BE YOU BERMULA DISINI


Karpet merah yang tertata indah bak catwalk model profesional dan panggung yang telah tertata sempurna dengan pencahayaan yang terang mengisyaratkan bahwa akan ada perhelatan akbar disana. 

Memandang panggung dan karpet merah itu dari jauh membuatku berulang kali mengatur nafas. Aku mencoba mempraktekkan nafas perut yang konon katanya bisa mengurangi ketegangan dan nervous ketika akan tampil di hadapan umum. 

Ketika aku sedang mondar-mandir di lorong gedung fakultas kedokteran, aku menangkap sosok penulis favoritku, Helvy Tiana Rosa. Dengan menggunakan sepatu hak tinggi, aku segera berlari mendekati beliau untuk meminta foto bersama. 

"Karya bunda helvy luar biasa sekali. Doakan saya ya agar bisa menjadi penulis seperti bunda helvy." Ungkapku atas kekagumanku pada karya bunda helvy.

"Insya Allah kamu bisa, teruslah menulis dan berkarya ya." Pesan Bunda Helvy. 

Aku pun segera mengeluarkan handphone dan meminta foto bersama dengan beliau.

Ah, syukurlah keteganganku yang tadi sempat berkurang karena teralihkan bertemu dengan penulis favoritku. 

Saat itu Bunda Helvy menjadi pembicara bedah bukunya yang berjudul ketika mas gagah pergi. Kalau Bunda Helvy sudah selesai itu tandanya giliranku dan peserta finalis Muslimah Inspirasi Undip akan segera dimulai.

Duh jantungku mulai berdebar kencang kembali. Kalau sedang grogi seperti ini rasanya ada sesak yang memenuhi dadaku. 

Dengan riasan lengkap, hijab yang dikreasikan segala rupa dan sepatu hak tinggi, para peserta finalis Muslimah Inspirasi Undip akan menampilkan talentanya dan berjalan diatas karpet merah untuk unjuk diri. 

"Seriously, ini bukan aku banget sebenarnya." Ucapku dalam hati. 

Sejak SD, aku sudah sering mengikuti kompetisi. Kompetisi yang paling sering aku ikuti kompetisi mata pelajaran. 

Entah mengapa ada keasyikan tersendiri ketika mengikuti kompetisi. Meskipun sering kalahnya dibanding menangnya. Namun aku menikmatinya.

Hanya saja suatu ketika orang terdekatku berkata, 

"Ikut lomba terus, nggak pernah menang terus. Udah buang uang tapi malah nggak menang."

Deg! rasanya saat orang yang paling dekat denganku berkata seperti itu, aku merasa jadi orang paling bodoh. 

Semenjak itu justru aku semakin agresif mengikuti kompetisi apa saja hanya untuk menunjukkan bahwa aku bisa prestatif. Seperti kontes Muslimah Inspirasi Undip yang aku ikuti ini.  

Hanya saja lagi, namaku tak pernah dipanggil menjadi pemenang Muslimah Inspirasi Undip, 
Setelah pengumuman muslimah inspirasi undip 2015


Setelah acara seremonial penganugerahan selesai, aku bergegas pulang. Aku menebeng pulang salah satu finalis Muslimah Inspirasi Undi yang merupakan mahasiswa jurusan keperawatan.

"Mbak, are you okay?" Tanya Hilya padaku.

"Oh, I'm okay kok dek. Hanya mempertanyakan aja sih." kataku.

"Mempertanyakan apa mbak?"

"Kenapa ya setiap lomba atau kompetisi yang aku ikuti, aku sering banget gagal?"

Hilya tidak langsung menjawab, motornya baru saja sampai di depan kosanku. 

"Mba, menang atau kalah lomba is just a bonus mba."

"Yeah, I know it dek."

"Bagiku ya mba, lomba itu hanya sarana mengukur sejauh mana kemampuan kita. Tentunya pertama yang harus kita lakukan ya menjadi diri kita sendiri."

"Menjadi diri sendiri...." potongku dan hilya masih melanjutkan. 

"Iya mba, dalam memenangkan sebuah kompetisi atau perlombaan kita perlu kenal dengan diri sendiri, apa yang jadi kelebihan kita.Nggak semua lomba perlu ambisius kita menangkan. Ketika kita sudah kenal dengan diri kita maka kita tahu dong hal apa yang jadi passion kita. Nah kita kudu kembangin passion kita itu. Kita latih terus biar kita jadi expert dan nanti akan kelihatan hasilnya."

"Iya sih dek, aku sebenarnya ndak terlalu suka tampil di depan publik seperti tadi. Aku nggak nyaman. Aku lebih nyaman ada di balik layar. Passionku ada di menulis sih dek."

"Nah, kenapa mbak nggak nyoba ikut lomba menulis aja? Mbak kan sudah tahu dimana passion mba, asah terus dan kalau ada kesempatan ikut lomba maka ikuti. You know mba, pemenang muslimah inspirasi undip tadi memang sudah passionate di bidang modeling. Jam terbangnya udah tinggi maka wajarlah kalau dia menang."

"Iya sih dek." Aku mengiyakan.

"Pokoknya mbak, jangan merasa rendah diri ketika kalah dalam perlombaan. Kalah dalam lomba bukan karena kita nggak baik. Hanya saja memang kita belum cocok aja dengan kriteria yang diinginkan oleh juri. Yang lebih penting lagi, jangan takut jadi diri sendiri. Allah kasih setiap manusia itu kelebihan dan cara kita bersyukur adalah dengan memaksimalkan kelebihan yang sudah Allah berikan pada kita."

"Huaa, adek aku terharu. You know me so well. Padahal kita baru kenal, but percakapanmu tadi memberikan jawaban atas pertanyaan besarku selama ini. Thanks ya dek."

"With pleasure mbakku." 

Percakapan dengan Hilya tadi menutup senjaku dengan momen yang indah. Pertanyaan besar dalam hidupku terjawab sudah. 

Yeah, It's right time for me to be the best version of myself. 

Perjalanan berani menjadi diri sendiri dimulai dari sini, 12 September 2015. 
***

Layaknya perjalanan dengan berkendara, kadang berjalan tanpa hambatan, kadang macet, kadang kendaraan mogok atau parahnya ada kecelakaan. Begitu juga dengan perjalanan menjadi diri sendiri. 

Ada banyak tantangan dan kebanyakan tantangan yang paling besar justru datang dari diri sendiri. 
Tantangan yang aku hadapi dalam menjadi diri sendiri justru adalah karena keraguanku. Aku ragu dengan kemampuanku, aku masih merasa kemampuan orang lain itu lebih baik dari aku. 

Beruntung, aku memiliki sahabat yang sangat mampu meyakinkan diriku kembali. Namanya Kak Jeki. Ketika bersamanya ada percakapan mendalam yang membuatku merasa teryakinkan kembali. Seperti percakapan kami di sore ini, di sebuah restoran fast food yang ice cream-nya menjadi favorit kita berdua.

"Ka, aku pengen bisa kayak kamu deh, bisa gambar dan menghasilkan uang sendiri. Aku masih ngrasa ragu dengan kemampuanku dalam menulis ini. Masih ragu apakah tulisanku bagus apa ndak. " Ungkapku.

" Nab, sebenarnya lo nggak mau atau nggak mampu?" tanya kak jeki.
 
Pertanyaan kak jeki membuatku bingung sendiri untuk menjawab. 

" Coba tanya lagi dalam diri lo, lo nggak mau nulis atau emang nggak mampu nulis. Toh kalau kamu bisa gambar dan nggak ada kemauan buat menghasilkan uang dari gambarmu ya sama aja." 

"Iya bener juga sih." Jawabku mengiyakan. 

Percakapan di sore ini membuatku kembali yakin bahwa aku harus jadi diriku sendiri. 

***

Email dari hipwee


Baru saja aku selesai mengajar murid-muridku anak TK dan aku merasakan kejenuhan ketika mengajar, tiba-tiba datang kabar gembira yang membuatku kembali semangat. Email itu datang dari hipwee. It's such  a dream comes true. Tulisanku akan diterbitkan oleh penerbit major. 

Semenjak tahun 2015, aku memutuskan untuk serius menjadi penulis agar menjadi penulis profesional. Maka aku tak segan untuk mengikuti mentoring menulis yang saat itu harganya sampai diatas satu juta. Beruntung aku mendapatkan beasiswa. Namun karena aku mahasiswa saat itu  dan belum berpenghasilan maka aku meminta keringanan untuk bisa membayar secara berangsur.  

Tepat diawal tahun novel pertamaku jadi dan aku bersama mentor menulisku berkunjung ke beberapa penerbit major yang ada di gedung gramedia. Wah rasanya menjadi pengalaman tak terlupakan bagiku bisa berkenalan langsung dengan para editor dari penerbit major.

Namun sepertinya naskahku perlu perbaikan sehingga belum memiliki kesempatan untuk terbit di penerbit major. 

Setelah lulus kuliah di tahun 2017, aku memutuskan untuk memenuhi panggilan hati mengabdi di desa kelairanku. Semenjak ada musibah tanah longsor di desa yang masih satu kecamatan denganku, lahirlah sebuah lembaga TK Islam dan aku memutuskan mengabdikan diri disana. 

Idealis, saat itu yang aku rasakan. Aku ingin bisa kembali ke desa untuk berkontribusi membangun desa. Namun, seiring berjalannya waktu, aku merasa ada bagian diriku yang aku lupakan ketika mengejar idealisme membangun desa.

Aku melupakan bagian diriku yang memiliki kecintaan dan asa untuk menjadi penulis profesional. Aku ingin mengejar asaku menjadi penulis profesional namun dilain sisi aku tak bisa meninggalkan idealismeku untuk memberikan kontribusi pada desa.

Akhirnya aku mengambil jalan tengah, sembari menjalankan peranku sebagai guru TK, aku juga terus belajar menulis. Beruntung di desaku sinyal tak jadi masalah sehingga aku bisa belajar dengan adanya internet. 

Barulah aku merasakan manisnya buah perjuangan menulis di tahun 2019. Beberapa kali aku memenangkan kompetisi menulis bahkan menulis untuk klien dari perusahaan seperti ruangguru, skill academy, moeslema, dan masih banyak lagi. 

Namun aku tak ingin berpuas diri, aku ingin menjadi penulis profesional yang suka belajar. Maka aku tak segan mengeluarkan uang untuk belajar dari para penulis yang lebih expert dibandingkanku. Karena aku yakin investasi leher ke atas tak akan pernah sia-sia. 
***

Malam semakin larut, namun entah mengapa pikiranku semakin kusut saja. Mataku juga belum mau terpejam. Lalu kuputuskan saja untuk mengambil spidol dan menuliskan hal-hal yang membuat pikiranku kusut. 

"Ah lega juga, ternyata nggak seribet yang dipikirin." Ungkapku lega.

Kulihat papan putih yang ada di pojok kamarku telah terisi dengan to do list projek tulisan dari klien. Tadi rasanya kepala penuh sekali dan bingung apa saja yang perlu dikerjakan. Namun setelah dituliskan ternyata tak serumit yang dikira. 

Ada empat projek penulisan dari klien yang deadline-nya hampir bersamaan. Tiga projek tekait content writing sedangkan satunya terkait ghost writing

Setelah merasa lega, mataku mulai mengajak untuk diistirahatkan. Tak sabar menunggu esok hari untuk mengeksekusi tulisan dari klien. Karena prinsip utamaku selalu ingin memberikan service excellence. 

Keesokan harinya, mataku terbuka dengan segar, aku sudah tahu mana dulu yaag harus kukerjakan. Semenjak pandemi ini siswa belajar dari rumah, ini seperti berkah bagiku karena bisa sembari mengerjakan projek-projek tulisan dari klien. 

Setelah mengerjakan urusan domestik rumah tangga, maka aku bergegas menuju laptop suamiku untuk segera mengerjakan tulisan dari klien. Ketika aku pencet tombol power-nya, tidak ada yang muncul di layar laptopnya. 

"Waduh kenapa ini?" ucapku mulai cemas. Deadline sudah didepan mata namun ada masalah seperti ini. 

Oke aku coba untuk mematikan dan menyalakan kembali. NIHIL,  tak ada gambar apa-apa disana. 

"Duh laptop kamu kenapa ini?" 

Aku menatap body hitamnya yang mulai memudar karena telah dimakan usia. Aku menatapnya dalam.

"Kamu kenapa? Ada yang ingin kamu sampaikan padaku? Maaf karena telah membuatmu bekerja terlalu keras."

Dia hanya menyahut dengan desing suara booting yang memenuhi satu ruangan kamarku. 

"Maafkan , sepertinya aku butuh istirahat. Aku tak lagi sekencang dulu saat menemani suami dan adik iparmu. Sudah 11 tahun usiaku dan kurasa ini waktunya aku bisa beristirahat." ucapnya lesu.

"Oh please, jangan sekarang. Siapa yang bisa kuandalkan selain kamu disituasi seperti ini. Please jangan sekarang." pintaku.

"Maaf aku sudah lelah, kau butuh penggantiku yang lebih tangguh dan lincah dalam menemanimu menuju impian terbesarmu. Saat menenami adik iparmu hingga mengantarkannya mendapat beasiswa ke australia saja aku sudah mulai lelah. Apalgi sekarang, aku tak bisa lagi seharian terus menemanimu. Aku bisa merasa panas."

"Oh please, jangan sekarang." Pintaku memelas hingga tak terasa mataku pun berkaca-kaca. 

"Jangan sedih, ada banyak penggantiku diluar sana. Aku rasa kau juga sudah ingin memiliki pengganti yang baru."

Deg! Mengapa ia bisa berpikiran seperti itu. Aku hanya kembali terdiam.

"Tak apa bila kau sudah terpikirkan siapa penggantiku. Aku justru bahagia."

"Hah, bahagia, memang kamu tahu siapa yang aku harapkan jadi penggantimu?"

"Iya bahagia dong, kalau kau menemukan pengganti yang lebih baik dariku bukankah kau akan lebih dengan mudah meraih impianmu menjadi penulis profesional? Kalau kau jadi penulis profesional kan aku juga turut bahagia. Aku tahu sudah lama kau ingin berganti laptop ASUS Vivobook seri S yang premium itu. Apalagi baru saja rilis seri terbarunya yang itu laptop kau bangetlah. Laptop ASUS Vivobook S14 S433."

Laptop Asus Vivobook S14 S433 
sumber : keluarga biru.com

Kaget aku, kenapa ia bisa tahu keinginanku berganti ke ASUS Vivobook S14 S433? Aku tak pernah memberitahukannya sama sekali.

"Kau kaget ya kenapa aku bisa tahu? Lah, aku kan yang setiap hari bersamamu menemanimu mencari berbagai info dan kutemukan riwayat pencarianmu mencari laptop ASUS Vivobook S14 S433. Aku sudah tahu kok sejak lama kamu pengen punya laptop yang langsung terinstal dengan windows yang original. Tidak seperti aku yang masih abal-abal."

"Iya, kamu betul, karena aku pengen pendapatanku dari menulis itu bisa lebih berkah dengan memakai produk yang punya lisensi windows original." 

"Nah, itu kau akhirnya mengaku juga. Kau tak perlu cemas aku menjadi seperti ini karena tahu kau ingin punya pengganti baru. Aku mendukungmu punya laptop ASUS Vivobook S14 S433. Jangan selain itu."

"Ih kok malah jadi posesif gini sih." protesku.

"Karena laptop ASUS Vivobook S14 S433 yang memang cocok dan kau bangetlah."
 
Tiba-tiba aku merasa terharu. Sebegitu perhatiannya ia padaku. Aku justru yang tak perhatian padanya dan selalu memaksanya bekerja satu hari penuh tanpa istirahat. 

"Memang apa yang kamu tahu tentangku?" 

"Wah, aku sedih nih, kau meragukanku. Meski tak selama menemani suami dan adik iparmu, aku tahu tentang kau. Oke, kita mulai dari tampilan ya."

"Ya, silahkan sebutkan." ucapku mempersilahkan

Ia terdiam sejenak, suara booting-nya yang bising masih memenuhi suara dikamarku. 

"Beri aku hadiah ya, kalau aku benar menebak. Eh, bercanda. Cukup beri aku waktu istirahat itu sudah cukup kok. Kalau dari penampilan, kau suka penampilan yang sederhana, minimalis, girly namun anggun. Iya kan?"

Kok ia benar terus sih menebaknya. Memang teknologi big data bisa membuat siapa saja jadi cenayang yang bisa menebak-nebak keinginan orang lain.

"Great, kamu benar." Jawabku jaim.

"Nah, pas sekali nih kalau nanti kau menggantiku dengan laptop ASUS Vivobook S14 S433, kau akan punya laptop yang tampilannya kau banget pokoknya. Laptop ini didesain anti mainstream pokoknya. Cutting di bagian tepinya beda dengan laptop keluaran ASUS yang biasa. Kalau dilihat dari jauh, orang nggak bakal mengira kalau itu laptop ASUS. Dengan tepian diamond cut dan finishing yang bertekstur serta tulisan ASUS Vivobook yang agak ke tepi memunculkan kesan laptop yang minimalis, elegan, dan juga anggun. Aku yakin kau akan semakin jatuh cinta dengan laptop ini dengan tampilannya yang kau banget."

Desain yang minimalis
Sumber: keluargabiru.com


Dalam hati aku langsung membayangkan dan berandai andaikan laptop ASUS Vivobook S14 S433 ada di hadapanku, maka bisa seharian aku bersanding dengannya. 

"Trus apalagi?" tanyaku mulai penasaran.

"Tuh kan, kau mulai tertarik. Oke, biar kau tak mati penasaran, kuberi tahu lagi ya. laptop ini punya empat serial warna yang masing-masing warna mengekspresikan kepribadian tertentu. Ada juga loh warna kesukaanmu."

"Oh ya?" tanyaku penasaran lagi dan tak sabar untuk melhat warna apa saja yang ada. 

Aku meraih smartphone-ku yang tak jauh dari sisiku. Aku segera buka web resmi Asus Indonesia dan kutemukan ada empat warna yang anti mainstream banget. 

Dulu saat aku punya laptop saja, bagian luarnya aku pasangin sticker pink hello kitty. Tanpa sadar itu bisa meningkatkan rasa percaya diriku, karena laptopku itu menunjukkan kepribadianku sebagai sosok yang lembut. 

Biasanya warna laptop yang tersedia di pasaran warnanya standar, tidak seekspresif laptop ASUS Vivobook S14 S433. Langsung auto bahagia tahu warnanya keren banget. 

Ada warna Gaia Green, warna ini terinspirasi dari alam dimana menunjukkan bahwa pemiliknya itu mudah beradaptasi dan terbuka tantangan atau kesempatan yang diberikan.
Sumber: Asus Indonesia 


Ada warna Resolute Red yang menunjukkan karakter pemiliknya itu berani tampil berbeda, tidak takut atas apa yang orang lain pikirkan. Pokoknya break the stereotype.

Sumber: Asus Indonesia 


Ada warna Dreamy Silver, warna ini ditujukan bagi mereka yang berani bermimpi, jujur dengan ide yang dimiliiki dan bangga dengan keyakinan yang dimiliki.
Sumber: Asus Indonesia 

Ada warna Indie Black, warna ini merepresentasikan kebebasan tanpa kompromi dan kepemimpinan. Warna ini mewakili mereka yang mampu memimpin di setiap situasi dan tidak takut bersuara untuk orang lain. 
Sumber: Asus Indonesia 

"Sudah tahu kan ada warna apa aja, kau suka warna yang apa?" tanyanya mengagetkanku yang masih fokus dengan smartphone-ku.

"Biasanya aku suka warna pink, katanya warna resolute red ini lebih ke warna pink ya. Tapi kalau dari filosofinya aku milih dreamy silver aja karena aku banget."

"Wah, sudah kuduga kau akan memilih dreamy silver, sesuai dengan karaktermu yang menyukai gaya minimalis."

Aku hanya tersenyum, merasa bahagia karena diperhatikan. Aku memandangnya dengan tatapan penuh cinta kali ini. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sendu.

"Maafkan aku ya, badanku yang berat membuatmu tak bisa selalu membawaku kemana-mana. Apalagi aku harus selalu berdekatan dengan colokan listrik agar aku bisa menemanimu seharian. Kalau kamu menggantiku dengan laptop ASUS Vivobook S14 S433 kamu tak perlu khawatir pundakmu sakit. Berat laptop ini sangat ringan kok, beratnya hanya 1,4 kg dan sangat tipis hanya 15,9 mm. Bukankah itu impianmu sekali, bisa pergi kemana saja dan menulis dimana saja.  Asalkan tidak di kamar mandi saja." 

Sumber: keluargabiru.com

"Ih, apaan kok bawa-bawa kamar mandi, ya kali aku mau nulis di kamar mandi."

"Haha, iya tahu kok. Oh ya lagi suka nonton drama atau film apa?"

"Lagi pengen couple time nih sama suami nonton film Habibi Ainun 3."

"Wah pas banget, laptop ini layar bezel nanoedge-nya tipis dan layarnya berukuran 14 inch. Jadi memberikan kesan layar yang penuh. Sehingga kalau kamu mau nonton film atau drama itu mantap banget, berasa nonton di bioskop, eh ini berlebihan ya. Ditambah audio laptop ini yang sudah tersertifikasi Harman Kardon sehingga kualitas audionya tak perlu lagi diragukan. Couple time-nya jadi semakin romantis. Duh jadi pengen."

sumber: keluargabiru.com


"Haha, apaan sih kamu." 

Tiba-tiba tombol power yang tadi nyala kini mati dengan sendiri. Ketika kulihat, ternyata aku lihat kabel charger-nya belum dicolokin. 

Sesaat kemudian pintu kamar terbuka, muncul suamiku beserta baby salman.

"Gimana dek, sudah sampai mana nulisnya?"

"Hehe, laptopnya masih istirahat nih mas." 

"Oalah, ya udah temenin salman dulu yuk."

Sesungguhnya aku penasaran dengan kelanjutan laptop ASUS Vivobook S14 S433. Tapi biarlah, percakapannya kulanjutkan nanti. 

***
Malam hari setelah salman dan suamiku terlelap, kucoba kembali menekan tombol power laptop suamiku. Lagi, hanya tombol power-nya yang nyala, layar hitamnya kini memandangiku kembali.

"Terima kasih ya, sudah kasih waktu istirahat. Mau ngobrol lagi tentang laptop ASUS Vivobook S14 S433 ya?" tiba-tiba ia langsung bertanya.

Aku menganggukkan kepala tersipu malu.

"Aku akan cerita bagian yang kau suka nih. Tentang kinerja laptopnya. Maaf ya selama ini aku tidak bisa diajak multitasking dengan smart dan cepat. Tapi kalau kau punya laptop ASUS Vivobook S14 S433 kau akan bahagia. Processor yang digunakan adalah prosesor Intel® Core  Generasi 10 dengan pilihan intel i5 dan i7 dan memori hingga 16GB serta kartu grafis NVIDIA® MX250. PCIe® SSD berkapasitas besar yang memberikan performa tinggi dan bisa mengakses apapun dengan super cepat."
sumber: keluargabiru.com


"Jadi aku bisa buka banyak aplikasi dalam satu waktu dengan cepat? Aku biasanya buka browser dengan banyak tab, buka aplikasi word, aplikasi edit gambar, buka canva dan kadang video juga." Potongku.

"Exactly, apa yang kamu inginkan tadi bisa terwujud. Nggak perlu khawatir laptopnya nge-lag. Apalagi adanya intel optane bikin kecepatan tambah kenceng dan uniknya bisa baca pola pemakain kita. Udah semacam cenayang aja."

"Wih, mau mau, ceritain lagi yang lainnya dong."

"Laptop ini memang cocok banget buat penulis profesional kayak dirimu. Selain hemat daya karena menggunakan intel generasi 10, ada fitur premiumnya juga seperti fast charging, cukup butuh waktu 49 menit baterai laptopmu sudah terisi 60%. Nggak kayak aku nih yang kudu nyolok listrik terus. Jadinya kamu tidak perlu khawatir kalau sedang bepergian karena laptop ini lebih hemat baterai."

"Tapi kamu tetep terbaik kok."

"Ah kau bisa saja. Oh ya, kau tak perlu khawatir laptopmu disalahgunakan orang lain karena fitur keamanannya menggunakan fingerprint sensor yang ada di touch pad-nya. Jadi, kau tak perlu repot untuk mengetikkan kata sandi, cukup tempelkan jarimu di sensor fingerprint dan akan langsung login dengan mudah lewat fitur Windows Hello. Kau juga bisa memasang foto login dengan fitur windows hello ini." 
sumber: keluargabiru.com


"Wah, jadi nggak perlu ngafalin kata sandi terus ya. Kadang kan suka lupa gitu."

"Yeah, you're right. Nah, kau kan memiliki hobi menulis dan sering menulis sampai larut malam juga. Adanya backlight yakni cahaya yang muncul dibawah tombol membuat kau tak perlu cemas salah ketik, karena malam hari tetap terlihat tombolnya. Uniknya lagi dibawah tombol enter ada color blocking warna hijau stabilo membuatmu jadi tidak salah pencet. Keyboard-nya juga nyaman banget, aku jamin kau akan betah untuk mengetik seharian."

"Woah, I love it."

"Do you love me?"

"Of course I love you much, much, much, more."

"Wah kau jawabnya kayak bintang yang di serial tetangga masa gitu. Pokoknya laptop ini selain trendy, performanya bagus dan windows-nya original lagi. Impianmu banget kan?"

"Iya, kamu tahu banget apa yang aku butuhkan. Ngomong-ngomong spesifikasi lainnya gimana nih?"

" Untuk spesifikasi lainnya coba deh googling aja. "

Okelah, langsung kuraih smartphone-ku dan mencari info spesifikasi lainnya dan inilah spesifikasi lainnya. 

Spesifikasi ASUS Vivobook S14 S433 
sumber: ASUS Indonesia


Untuk harganya memang sangat sebanding dengan kualitasnya. 

Untuk Laptop ASUS Vivobook S14 S433 dengan spesifikasi windows 10 Home/Intel® Core™ i5-10210U/NVIDIA® GeForce® MX250/8G/512G PCIe+32GB M.2 SSD(Intel TG) dibandrol dengan harga Rp. 13.999.000

Sedangkan Laptop ASUS Vivobook S14 S433 dengan spesifikasi  Windows 10 Home/Intel® Core™ i7-10510U/NVIDIA® GeForce® MX250/8G/512G PCIe+32GB M.2 SSD(Intel TG) dibandrol dengan harga Rp. 15.999.000

"By the way apa sih yang membuatmu jatuh cinta dengan ASUS?" tiba-tiba ia menanyakan hal yang tak terduga.

"Aku suka tagline ASUS, In search of incredible. Dengan tagline itu seolah membuat penggunanya menjadi pribadi yang luar biasa. Apalagi asus vivobook S14 S433 ini benar-benar mengkampanyekan apa yang menjadi harapan setiap generasi milennial dan generasi Z yakni berani menjadi diri sendiri atau istilah kerennya adalah dare to be you.

"Trus apalagi?"

" Kemarin saat liat rekaman video ulang launching ASUS Vivobook S14 S433 jadi merasa termotivasi untuk terus berkarya. Pernyataan paling menarik pada saat launching itu adalah dari Cy Lu, ASUS Indonesia Country Product Manager menyatakan bahwa ia adalah seorang pemimpi. Jadi, produk ini menimbulkan gairah dan semangat untuk mewujudkan impian setiap anak muda."



"Bener banget, aku juga salut dengan ASUS, apalagi di seri laptop ASUS Vivobook S14 S433 berkolaborasi juga dengan dua brand lokal yakni muklay dan billionaires project t-shirt. Khusus laptop ini ada sticker dari muklay yang bisa ditempelkan di bagian depan laptop. Uniknya sticker tersebut berbeda antara orang yang satu dengan lainnya. Jadi memang laptop yang cocok untuk generasi milennial dan generasi Z yang selalu ingin tampil beda."

Sumber: Asus Indonesia


"Ih, aku jadi pengen sticker-nya. Lucu-lucu banget deh." 

"Nanti aku kasih deh kalau aku beli laptop asus vivobook S14 S433 deh."

"Aku doain semoga kau bisa segera membawa pulang laptop ASUS Vivobook S14 S433 ke rumah. Aku akan sangat bahagia karena aku bisa beristirahat."

"Terima kasih untuk doanya. Tapi please sekarang jangan dulu berhenti menemaniku."

"Terus sampai kapan dong?"

"Sampai  aku bisa membawa pulang laptop ASUS Vivobook S14 S433 ke rumah. Untuk saat ini please, temani aku menyelesaikan empat projek penulisan dari klien. Bukankah kamu ingin aku bahagia. Please." Rengekku.

"Hmmm, gimana ya. Aku tak bisa berjanji. Duh kasihan kau, kau ini penulis pembelajar namun sayang alat tempurnya masih jadul kayak aku. Semoga Allah segera memberimu rezeki laptop baru itu ya. Biar kalau belajar editing vieo atau gambar jadi lebih cepat."

"Aamiin, jadi gimana permintaanku?"

"Aku jawab besok ya, aku mau istirahat nih. Bye."

Tanpa mendengar permintaanku lagi, tombol power tiba-tiba mati sendiri. 

"Huft semoga besok kamu mau menemaniku untuk menulis."

Dengan langkah gontai aku naik ke tempat tidur dan membenamkan diri. 

Keesokan harinya aku terkaget ketika suamiku bisa menggunakan si kimmy, laptop kesayangannya.

"Thank you kimmy, kamu mau menemaniku sampai datang penggantimu. Aku janji akan memperlakukannmu dengan penuh cinta." Ucapku girang sambil mengelus badannya yang hitam gelap itu. 

KESIMPULAN

Ini adalah ceritaku tentang berani mengikuti kata hati menjadi diri sendiri. Ini tips dariku agar kamu juga berani mengikuti kata hatimu dan jadi dirimu sendiri. 

  1. Bila kau belum tahu ingin jadi apa maka cobalah banyak hal sebanyak mungkin, belajar apa saja, kalau perlu ikut tes kepribadian nanti kau akan tahu dimana bidang yang membuatmu nyaman. 
  2. Kelilingilah dirimu dengan orang atau sahabat yang selalu mendukung apapun keputusanmu selagi itu positif. 
  3. Jangan pernah berhenti belajar dan mengembangkan diri. 
  4. Terbukalah pada setiap kesempatan dan tantangan
  5. Berinvestasilah pada aset yang membantumu menuju impianmu seperti aset laptop asus vivobook S14 S433. 
Oh ya, laptop ASUS Vivobook ini cocok untuk kamu yang:
  1. Berjiwa Muda, age is just number
  2. Suka berkreasi dengan kreativitas
  3. Hobi membuat konten baik tulisan, audio ataupun video.
  4. Punya mobilitas dan multitasking yang tinggi.
Oh ya untuk laptop ASUS Vivobook S14 S433 bisa didapatkan di marketplace kesayanganmu seperti shopee, tokopedia, blibli, bhinneka dan JD.ID

Ada promo menarik nih untuk setiap pembelian ASUS Vivobook S14 S433 melalui e-commerce yakni mendapat T-shirt Ekslusif Billionaire's Project selama persediaan masih ada. 

Nah, kira-kira sudahkah kamu berani menjadi dirimu sendiri? Kalau belum apa nih kendalanya? 
Kalau sudah berani menjadi diri sendiri, yuk sharing kisah #DareToBeYou! Karena setiap cerita yang baik sangat layak untuk dibagikan. 

  • Share:

You Might Also Like

4 komentar

  1. iya kata hati lebih berasa kejujurannya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali mba, meski memang butuh keberanian

      Hapus
  2. Makasih mba Bil tulisannya. Menginspirasi mba, buat aku semangat 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau tulisan ini bisa bermanfaat dek

      Hapus